Translate

Sabtu, 23 November 2013

PERAN PEMERINTAH MENGATASI PENGANGGURAN DIBIDANG SDM KELAUTAN

PERAN PEMERINTAH MENGATASI PENGANGGURAN DIBIDANG SDM KELAUTAN

Berawal dari keprihatinan melihat banyaknya para pemuda-pemuda di usia produktif yang melamar dan bekerja diluar negeri khususnya Korea Selatan dan Taiwan serta Spanyol sebagai nelayan/anak buah kapal dengan gaji antara 5jt sampai 15 jt sangat miris melihat Negara ini yang dianugerahkan oleh Allah swt Negara yang memiliki sumber daya kelautan yang begitu besar tidak bisa di manfaatkan oleh Negara khususnya pemerintah pusat dan daerah padahal kalau ada kemauan Negara dalam mensejahteraahkan rakyatnya banyak cara :

1. Menginvestasikan dengan membeli kapal kapal besar , peralatan penangkapan, dan teknologi modern pendukungnya Membentuk sebuah BUMN yang menangani dan mengakomodir para pengusaha kapal penangkap ikan/rajungan seperti halnya yang diterapkan Negara lain seperti halnya Jepang, Korea dan Spanyol
2. Dengan Panjangnya garis pantai Negara ini diperlukan pelabuhan –pelabuhan perikanan yang mumpuni dan berdaya saing tinggi
3. Mengoptimalkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang selama ini banyak dimanfaatkan Negara-negara lain dengan begitu hasil tangkap dan ekspor kita dibidang simber daya laut bisa ditingkatkan secara signifikan
Semuanya bisa dilakukan selama ada kemauan yang kuat untuk meningkat daya saing, meningkatkan kesejateraan warganya, serta menjadikan Indonesia negara yang maju sejajar dengan Negara adidaya lainya.


semoga dimasa mendatang indonesia menjadi negara yang maju dan kaya serta sejahtera sesuai dengan cita-cita pendiri negara ini 

EKA plastik
Jl. Puri Langgeng IX No.13 Cirebon Jawabarat - Indonesia
Telp. (0231) 3890607
Hp. 08115007600 - 0817260782
https://www.facebook.com/jaring.bubu.eka.plastik
https://sumberdayalaut.blogspot.com/

Kamis, 07 November 2013

INTRODUCTION TO BUBU / WADONG

INTRODUCTION TO BUBU / WADONG

We, EKA plastik is a net producer Bubu, or who has another name as the Nets Wuwu, Wadong Nets, Nets Bintur.Nets of our products is the result of hand-crafted, made with an assortment of shapes and sizes, according to the demands and needs of consumers. Bubu is made of steel frame (wire zinc) corrosion resistance, the frame is closed / PE net embroidered with thread embroidered D6 so that the distance between the net and the metal frame tightly and strong, there are 2 trap nets mouth is located on the left and right. Shape into mengkerucut and serves as the entrance crab, crab spots or shellfish (conch) and lobster. Frame traps are made permanent and can not be easily opened and closed, making it easier for fishermen baiting the hook bait and spread it out into the sea that is environmentally friendly fishing gear.Commonly used trap nets to catch the crab, but also in the development trap nets used to catch conch and lobster catch, by the way:Hook the door opened, there was room for the feed iron, pairs of fish (a foul-smelling) stick on iron feed the fish as much as 2 to 4 (Proportional), then closed the door, then enter the traps to the ocean. Keep in mind trap nets is one of the environmentally friendly fishing gear.Dipantura island of Java is generally in 1 boat (traditional fishing boat) using 200 to 300pcs trap nets are tied into the main rope 6ml.In order to establish mutually beneficial cooperation in the future, we are ready for the call.

Product Description
1. Bubu nets 32 BoxSize:Length Width 32cmx 48cmxTinggi19cmFramework Body: Zinc No.8 wireKeywords: Zinc wire 10Feed: Zinc wire 12Nets: PE D6 1 ¼ "

2. Bubu nets 32 Box CombinationSize:Length Width 32cmx 48cmxTinggi19cmFramework Body: Zinc No.8 wireCross Lower body: Zinc wire 10Keywords: Zinc wire 10Feed: Zinc wire 12Nets: PE D6 1 ¼ "

 3. Nets Wadong Bubu Great Responsibility (WTB)Size:Width 30cmx long 45cmxTinggi18cmFramework Body: Zinc No.8 wireKeywords: Zinc wire 10Feed: Zinc wire 12Nets: PE D6 1 ¼ ".

 4. The net liability Bubu Wadong Minor (WTK)Size:Width 30cmx long 45cmxTinggi18cmFramework Body: Zinc wire 10Keywords: Zinc wire 10Feed: Zinc wire 12Nets: PE D6 1 ¼ "

 5. Bubu nets Keong (KK)Size:Width 23cmx long 35cmxTinggi14cmFramework Body: Zinc No.8 wireKeywords: Zinc wire 10Feed: Zinc wire 12Nets: PE D6 1 ¼ "

6. and other measures that can be ordered according to the customer's desire for more info contact us belowReleased by:Oman Panorama AAG, SH

Info & Order
 EKA plastik
Jl. Puri Langgeng iX-13  Cirebon Jawa Barat -  Indonesia
Telp (+6231)3890607
Hp. +628115007600 - +62817260782

Catcher Technology Rajungan Environmentally Friendly
                                 





Indonesia has a swimming crab catcher Environmentally Friendly Technology
From Cirebon in Indonesia arrests Rajungan introduce environmentally friendly technology , called traps , wadong , bintur to fishermen from Sabang to Merauke to address the threat of exploitation of marine fisheries in Indonesia
This trap technology has been applied on the northern coast of Java that results are very satisfactory , the net bubu many other sectors as a supporter of starting fish for bait , ice cubes and other iindustri sebainya as well as environmentally friendly plastic mesh traps eka production has increased income of fishermen both large , medium and small its impact on the welfare of fishermen and state revenues through increased exports of marine products amounted to 2.47 trillion of this sector in 2012 continued to increase from year to year before

bubu wadong gear operation is similar to the trap . Traps are made ​​of galvanized iron wire for the frame , pe coated nets , embroidered with thread d6 typically used traditional fishermen .
Wadong traps can be installed to a depth of more than 40 meters while the traditional trap only reach a depth of three meters .

In addition to environmentally friendly because coastal waters will be maintained, trap nets also creates cooperation among fishermen to reduce conflicts arising from the seizure of fishing area .

Fishing economy also increased because of the catch obtained in fresh condition and can be sold at a high price , How the net traps , he is very easy as just putting bait fishing hook in place and buttoned , trap nets put into the ocean and swimming crabs went into the trap , so crab in fresh condition can be harvested every day .

Rajungan arrests were carried out using a variety of traditional fishing gear can lead to lower stock Rajungan Jumbo and environmental degradation .
In Java currently has installed 30 thousand / month Net Nanny along the northern coast of Java and Rajunganya production contributed the most .

Wadong own trap nets produced by Eka plastic traps a group of fishing effort that can produce up to 100 thousand net trap / month because the quality has been tested at sea and flexsibel size depends on the situation and the sea itself EKA aspire plastic nets production bubu can be exported to various countries in the world that can be enjoyed by fishermen all over the world .

for info and booking
EKA plastic
Jl . Puri Langgeng  IX 13 Cirebon  Jawa barat - Indonesia
Tel . (+62231) 3890607
Hp . +628115007600-+62817260782
https://www.facebook.com/jaring.bubu.eka.plastik
https://sumberdayalaut.blogspot.com/

Teknologi Perangkap Rajungan Ramah Lingkungan

Teknologi Penangkap Rajungan Ramah Lingkungan

Indonesia memiliki Teknologi Penangkap Rajungan Ramah Lingkungan
Dari Cirebon untuk Indonesia memperkenalkan teknologi penangkapan Rajungan ramah lingkungan, disebut bubu, wadong, bintur kepada nelayan dari sabang sampai merauke untuk mengatasi ancaman ekspoitasi perikanan di laut Indonesia
Teknologi bubu ini telah diterapkan di pantai utara jawa yang hasilnya sangat memuaskan, adanya jaring bubu banyak sektor-sektor lain sebagai pendukung dari mulai ikan untuk umpan, iindustri es batu dan lain sebainya selain juga ramah lingkungan jaring bubu produksi eka plastik telah berhasil meningkatkan penghasilan nelayan baik yang besar, sedang dan kecil imbas nya pada kesejahteraan para nelayan dan pendapatan negara melalui peningkatan ekspor hasil laut sebesar 2,47 Triliun dari sektor ini ditahun 2012 terus meningkat dari tahun ke tahun sebelumnya

bubu wadong merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap. Bubu yang terbuat dari besi kawat galvanis untuk rangkanya, dilapisi jaring pe, disulam dengan benang d6 biasanya digunakan nelayan tradisional.
Bubu wadong dapat dipasang sampai kedalaman lebih dari 40 meter sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter.

Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, jarring bubu juga menciptakan kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan.

Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi, Cara kerja jaring bubu, menurutnya sangat mudah karena nelayan hanya menaruh umpan ditempat pengait lalu dikancing, jaring bubu dimasukan ke laut dan rajungan pun masuk ke perangkap, sehingga Rajungan dalam kondisi segar dapat dipanen setiap hari.

penangkapan Rajungan yang dilakukan nelayan tradisional dengan menggunakan berbagai alat tangkap dapat mengakibatkan penurunan stok Rajungan Jumbo dan degradasi lingkungan.
Di Wilayah Jawa saat ini telah terpasang 30 ribu/bulan Jaring Bubu di sepanjang pantai Utara Jawa dan produksi Rajunganya memberi kontribusi terbesar.

Jaring bubu wadong sendiri diproduksi oleh Eka plastik bubu sebuah kelompok usaha nelayan yang bisa memproduksi jaring bubu hingga 100 ribu /bulan karena mutu dan kualitas sudah teruji di laut serta ukuran yang flexsibel tergantung dari situasi laut itu sendiri dan EKA plastik bercita-cita jaring bubu produksi bisa diekspor ke berbagai Negara didunia sehingga bisa dinikmati oleh nelayan di seluruh dunia.

untuk info dan pemesanan
EKA plastik
Jl. Puri Langgeng IX No.13 Cirebon Jawabarat - Indonesia
Telp. (0231) 3890607
Hp. 08115007600 - 0817260782
https://www.facebook.com/jaring.bubu.eka.plastik
https://sumberdayalaut.blogspot.com/


\         
                                       

Rabu, 11 Agustus 2010

PENGENALAN TERHADAP JARING BUBU WADONG RAJUNGAN


EKA plastik  produsen Jaring Bubu, atau yang mempunyai nama lain dengan sebutan Jaring Wuwu, Jaring Wadong, Jaring Bintur merupakan hasil kerajinan tangan, dengan berbagai bentuk dan ukuran, sesuai dengan selara dan kondisi wilayah. 
Bubu terdiri dari kerangka besi (kawat seng) tahan karat, kerangka disulam dengan jaring PE benang D6  sehingga jarak antar jaring dengan kerangka besi rapat dan kuat, mulut jaring bubu ada 2 terletak disisi kiri dan kanan. Bentuknya mengkerucut kedalam dan berfungsi sebagai jalan masuk rajungan, kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster. Rangka bubu dibuat tidak permanen dan dapat mudah untuk dibuka dan ditutup, sehingga memudahkan nelayan memasang umpan pada pengait umpan dan menebarnya ke laut yang merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Jaring bubu umumnya digunakan untuk menangkap rajungan, tapi dalam perkembangannya jaring bubu juga digunakan untuk menangkap keong dan menangkap Lobster, dengan cara:
Pengait pintu dibuka, disana terdapat besi tempat umpan, pasang ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional), selanjutnya pintu ditutup, selanjutnya masukkan bubu ke laut. Perlu di ingat Jaring bubu adalah satu diantara alat tangkap yang ramah lingkungan.
Dipantura pulau jawa umumnya dalam 1 perahu (perahu nelayan tradisional) menggunakan 300 sampai 400Pcs jaring bubu yang diikat dalam tali utama 6ml.
Untuk bisa menjalin kerjasama saling menguntungkan pada masa mendatang, kami siap dihubungi.

  

Dirilis oleh:
Oman Panorama AAG, SH

Untuk Info dan Pemesanan
EKA plastik
Jl. Puri Langgeng IX No.13 Cirebon
Telp. (0231) 3890607
Hp. 08115007600 - 0817260782
e_mai : ghoib_mu@yahoo.co.id
panoramadahlia@gmail.com

Kamis, 10 Desember 2009

BATAS WILAYAH DI 193 TITIK DASAR & 92 PULAU TERLUAR


Indonesia Sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia dan menurut United Nation Convention on The Law of The Sea ( UNCLOS) 1992. konsekuensinya, penetapan titik-titik pangkal terluar juga merupakan kerja cukup berat dan tidak mudah. Menurut hukum laut internasional, jarak dua titik berdekatan–jika ditarik garis lurus-maksimal 100 mil laut.

Pekerjaan besar itu harus melibatkan para ahli hukum untuk memastikan posisi titik-titik tersebut. Proses selanjutnya, mendaftarkanya kesekretariat PBB untuk memenuhi asas publisitas dengan publikasi disitus resmi.

Disitus itulah pekerjaan para ahli diuji, diteropong Negara tetangga apakah penetapan titik pangkal yang akan menjadi dasar batas wilayah dan kedaulatan itu bermasalah. “ dari 193 Titik pangkal yang didepositkan di PBB, tidak satupun yang disengketakan Negara tetangga,” kata Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Sobar Sutisna yang juga anggota Tim perunding Batas Maritim.

Sebelum menentukan 193 titik pangkal itu, tim yang diantaranya melibatkan Bakosurtanal dan Dinas Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut menyurvei lebih dari 300 titik sepanjang tahun 1996-1999. sebagai dasar survey tim memanfaatkan data Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Sebelum sempat didaftarkan disekretariat PBB, data direvisi karena sengketa Kepemilikan Pulau Sipadan & Ligitan yang keduanya akhirnya diputuskan menjadi milik Malaysia. Akibatnya tiga titik pangkal di sipadan dan ligitan diganti dipulau Sebatik dan Karang Unarang.

Keputusan itu memberi wilayah laut lebih besar karena titik dasar dipulau Bunyu diganti dipulau Maratau yang tarikan garis penghubungnya dari karang Unarang menjadi lebih panjang memoyong laut.

Berdasarkan kesepakatan UNCLOS, titik pangkal ada dititik terluar pulau terluar sebuah Negara dan Indonesia memiliki 92 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan 10 Negara.

Posisi titik pangkal disepakati pada posisi air surut terendah. Titik koordinat ditetapkan disana menurut Sobar terjadinya air surut terendah itu memiliki siklus 18,6 tahun artinya tidak sewaktu-sewaktu titik pangkal dapat dilihat langsung bahkan sangat sulit.

Menurut ahli hukum laut internasional Hasjim Djalal, penetapan titik pangkal sangat penting karena merupakan elemen penting perundingan batas wilayah kedaulatan sebuah Negara. Dari titik-titik itulah wilayah kedaulatan NKRI ditentukan. Oleh karena itu pascapenetapan titik pangkal Negara perlu terus memantau atau mengidentifikasi keberadaanya.

Sesuai dengan namanya titik pangkal menjadi dasar penarik garis batas berjarak 12 mil kearah laut lepas merupakan kawasan territorial, sejauh 24 mil merupakan Zona tambahan lalu 200 mil merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dengan bagian dasarnya merupakan batas landas kontinen.

Atas dasar kesepakatan internasional itu kehilangan pulau terluar karena tenggelam tidak mempengaruhi wilayah kedaulatan sebuah Negara. “sebagai daratan memang hilang, tetapi hak kedaulatan atas laut tidak” kata Hasjim

Pasalnya hukum laut internasional mengakui 5 hal yakni kedaulatan darat, laut, dasar laut, udara dan semua sumberdaya yang ada didalamnya. Seluruh kandungan sumber daya alam dalam batas landas kontinen adalah milik NKRI. Seluruh aktifitas dikawasan itu harus seizing Pemerintah RI.

Faktor utama dan penting terkait kedaulatan Negara adalah pengawasan efektif. Kunjungan berkala kekawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar meski tak berpenghuni amat dianjurkan. Mantan mentri Kelautan & Perikanan Sarwono kusumaatmadja berkisah saat masih menjabat ia berkunjung kesebuah pulau di Kalimantan Barat seorang bapak tua disana mengaku tidak tahu nama gubernurnya. Presiden yang ia kenal pun Soekarno. Namun ia kenal baik nama-nama nakhoda kapal nelayan Thailand berikut nomor lambung kapalnya karena sering mengangkut warga sakit.

Oleh karena itu kehadiran nyata pemerintah diwilayah perbatasan mutlak adanya berpenghuni atau tidak selama ada pengawasan berkala tak perlu khawatir pencaplokan pulau oleh Negara lain. “ada persepsi salah, seakan-akan kepemilikan sebuah pulau tergantung dari ada-tidaknya penduduk kata Sobar

Soal pengawasan yang membuat sipadan dan ligitan yang jatuh ketangan Malaysia. Pemerintah inggris saat menguasai Malaysia tercatat beraktifitas di dua pulau itu sementara Hindia Belanda tidak Adapun pulau miangas yang secara geografi lebih dekat dengan Filipina tetap menjadi Wilayah NKRI karena Hindia Belanda memiliki bukti aktifitas disana. Berkaca pada pengalaman Hasjim mengingatkan, pemantauan efektif dipulau-pulau terluar dan batas-batas wilayah RI harus dilakukan insentif berbuatlah sesuatu sebelum perkara muncul.

Senin, 30 November 2009

Pengenalan Terhadap Bubu alat tangkap Rajungan yang Ramah Lingkungan


Kami, EKA plastik adalah merupakan produsen Jaring Bubu, atau yang mempunyai nama lain dengan sebutan Jaring Wuwu, Jaring Wadong, Jaring Bintur.
Jaring produk kami merupakan hasil kerajinan tangan, dibuat dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen. Bubu dibuat dari kerangka besi (kawat seng) tahan karat, kerangka tersebut ditutup / disulam dengan jaring PE benang D6 disulam sehingga jarak antar jaring maupun dengan kerangka besi rapat dan kuat, mulut jaring bubu ada 2 terletak disisi kiri dan kanan. Bentuknya mengkerucut kedalam dan berfungsi sebagai jalan masuk rajungan, kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster. Rangka bubu dibuat tidak permanen dan dapat mudah untuk dibuka dan ditutup, sehingga memudahkan nelayan memasang umpan pada pengait umpan dan menebarnya ke laut yang merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Jaring bubu umumnya digunakan untuk menangkap rajungan, tapi dalam perkembangannya jaring bubu juga digunakan untuk menangkap keong dan menangkap Lobster, dengan cara:
Pengait pintu dibuka, disana terdapat besi tempat umpan, pasang ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional), selanjutnya pintu ditutup, selanjutnya masukkan bubu ke laut. Perlu di ingat Jaring bubu adalah satu diantara alat tangkap yang ramah lingkungan.
Dipantura pulau jawa umumnya dalam 1 perahu (perahu nelayan tradisional) menggunakan 200 sampai 300Pcs jaring bubu yang diikat dalam tali utama 6ml.
Untuk bisa menjalin kerjasama saling menguntungkan pada masa mendatang, kami siap dihubungi.



Keterangan Produk
1. Jaring Bubu 32 Kotak
Ukuran:
Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
2. Jaring Bubu 32 Kotak Kombinasi
Ukuran:
Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Palang Bawah body : kawat Seng No.10
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
3. Jaring Bubu Wadong Tanggung Besar (WTB)
Ukuran:
Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
4. Jaring Bubu Wadong Tanggung Kecil (WTK)
Ukuran:
Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm
Kerangka Body : kawat Seng No.10
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
5. Jaring Bubu Keong (KK)
Ukuran:
Lebar 23cmx panjang 35cmxTinggi14cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
6. dan ukuran lainya yang bisa dipesan sesuai dengan keinginan pelanggan untuk info hubungi kami dibawah ini

Dirilis oleh:
Oman Panorama AAG, SH
EKA plastik
Jl. Puri Langgeng IX No. 13 Cirebon
Telp. (0231)3890607 hp. 08115007600 - 0817260782
e_mai : ghoib_mu@yahoo.co.id
panoramadahlia@gmail.com

Sabtu, 07 November 2009

Perikanan Rajungan Di Indonesia

Rajungan merupakan hasil laut yang dapat diandalkan sebagai komoditi perikanan laut yang dapat menghasilkan devisa dan mempunyai potensi yang besar untuk sebagai komoditi ekspor bagi NKRI.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, perikanan beberapa jenis kepiting sudah menjadi perikanan andalan dan menghasilkan devisa yang tidak sedikit bagi Negara tersebut karena disamping teknologi yang memadai didukung juga SDM dan Alat Tangkap yang bisa meningkatkan hasil tangkap secara signifikan.

Ada Empat golongan kepiting komersial yang menjadi andalan perikanan kepiting di Amerika Serikat, yaitu
1. blue crab (kepiting biru) termasuk suku Portunidae yang merupakan satu suku dengan rajungan dan kepiting Indonesia.,
2. king crab, tidak terdapat diperaiaran kita dan satu bangsa dengan kelomang, termasuk kedalam suku Lithodidae, marga Paralithodes
3. tanner crab terdiri atas sedikitnya tiga jenis yaitu Chionoecetes bairdi, C. apilio dan C.tanneli, kesemuanya termasuk suku Majidae.
4. Dungeness crab Atau Market Crab adalah kepiting dari jenis Cancer magister dari suku Cancridae.

Walaupun Indonesia tidak seperti perikanan kepiting di Amerika, Di beberapa Laut kita seperti di wilayah sebagian besar pantai utara pulau jawa, pantai sulawesi hasil rajungan perlu diperhitungkan sebagai hasil perikanan. Tentu ini perlu mengembangkan daerah-daerah baru diseluruh wilayah NKRI karena pasar produk rajungan di Indonesia cukup terbuka lebar tetapi karena hasil perikanan ini masih kecil skalanya,

Pengelolaan Sumberdaya Rajungan
Beberapa Cara menangkap Rajungan yang dilakukan oleh para nelayan disebagian besar Peraiaran laut Indonesia di antaranya :
1. Jaring Kejer merupakan jenis jaring yang dilengkapi pelampung dan pemberat yang dapat menghadang ruaya rajungan. Jaring ini dipasang pada malam hari ditebar dilaut pada sore hari dan keesokan harinya sebelum matahari terbit diangkat kembali. Kelemahan dari alat ini adalah jaring kejer cepat rusak, hasilnya juga kurang maksimal, kelebihan dari alat ini yaitu praktis
2. Garuk/Garok, alat ini digarukan sepanjang dasar laut dengan perahu motor yang bergerak perlahan-lahan sehingga rajungan yang terdapat didasar laut ikut tergaruk dan tertangkap. Bersama Rajungan banyak jenis hewan dasar lain ikut tertangkap. Alat ini termasuk alat pembasmi dan merusak keseimbangan ekosistem laut kelebihan alat ini alat ini tidak
3. Jaring Bubu atau Wadong/Wuwu atau Bintur alat ini disebut juga jarring angkat atau Lift-net. Alat tangkap inilah sekarang yang paling banyak dipakai oleh nelayan sebagai perangkap untuk menangkap rajungan karena alat ini sangat membantu nelayan dalam hal peningkatan hasil tangkap rajungan sangat signifikan dibandingkan kedua alat diatas, kelemahan alat tangkap ini yaitu Bubu sebagai jaring perangkap memerlukan umpan yaitu ikan, hal ini kalau dipasaran tersedia ikan tidak ada masalah akan tetapi pada waktu belum musim ikan hal ini akan membingungkan para nelayan. Bubu ada yang berbentuk Persegi, atau Bulat terbuat dari bahan kawat yang dilapisi oleh bahan jaring PE.

Jumat, 23 Oktober 2009

Harapan Ditangan Menteri Kelautan Baru

JAKARTA KOMPAS.com-Jumlah penduduk miskin Indonesia yang mencapai lebih dari 30 juta jiwa, 60 persen di antaranya terkonsentrasi di wilayah pesisir. Sudah sepantasnya jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tantangan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan baru untuk menyejahterakan penduduk wilayah pesisir yang mayoritas adalah nelayan kecil.Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), kurang dari lima persen nelayan di tanah air memiliki kapal di atas 100 Gross Ton (GT). Sementara jumlah nelayan yang memiliki perahu yang tidak bermotor mencapai lebih dari 60 persen.
Muhammad, pria kelahiran Ternate, Maluku Utara, 57 tahun lalu ini, menjadi satu dari tiga kader Partai Golongan Karya (Golkar) yang terpilih mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu ke-2 di Cikeas, Bogor, Senin (19/10), mendapatkan tantangan untuk itu.
Ia mengaku diberi arahan oleh Presiden untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan kaum nelayan. Selain itu, Fadel juga diminta untuk memperhatikan sumber daya alam yang tersedia, demi kemajuan daerah pesisir dan terbelakang. "Hal yang pokok adalah supaya bagaimana terutama rakyat kecil di pesisir dan nelayan meningkat pendapatannya," ujarnya.
Kepiawaian insinyur teknik fisika lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dalam membuat program pertanian, kelautan dan perikanan selama menjabat sebagai Gubernur Gorontalo menjadi alasan bagi Presiden untuk menugaskan dirinya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2009-2014.
Pria yang juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini menilai bahwa produksi perikanan di tanah air masih sangat rendah. Karena itu, jika ia mendapat kepercayaan untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan selama 5 tahun ke depan, maka pria yang memperoleh gelar Doktor Ilmu Administrasi Negara dengan predikat Cum Laude dari Universitas Gadjah Mada ini mengatakan dirinya akan berupaya meningkatkan produksi perikanan dengan menciptakan berbagai inovasi baru.
Saat ditanyakan perihal peluang kewirausahaan di bidang kelautan dan perikanan, pria yang telah mengantongi sedikitnya 34 penghargaan selama dua periode menjabat menjadi Gubernur Gorontalo ini mengatakan peluangnya sangat besar.
Gorontalo, provinsi yang telah ia pimpin selama kurang lebih delapan tahun, menjadi contoh nyata dari perjuangnya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dengan meningkatkan produksi perikanan dari 23.000 ton menjadi 100.000 ton per tahun.Tantangan yang diterima Fadel semakin semakin lengkap, saat orang nomor satu di negeri ini memintanya untuk mampu menjaga keutuhan Indonesia sebagai negara maritim yang besar.
"Bagaimanapun juga perlu ada koordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik dengan angkatan laut, dan perhubungan agar penugasan saya berhasil dan jelas di masa datang," kata Fadel.
Jumlah pulau yang dimiliki Indonesia berdasarkan catatan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mencapai 17.480 pulau, 92 di antaranya adalah pulau-pulau terluar. Satu di antaranya --Sebatik-- berbatasan langsung dengan negara lain, yakni Malaysia Hingga saat ini, baru 4.981 pulau milik Indonesia yang tercatat dalam "United Nations Group of Experts on Geographical Names/UNGEGN) pada 2007. Pemerintah menargetkan jumlah pulau yang terdaftar bertambah menjadi 11.000 pada 2012, dan selesai seluruhnya pada 2017.

Pro dan kontra
Terpilihnya pria bernama lengkap Fadel Muhammad Al-Haddar sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan putra Papua Freddy Numberi mendapat dukungan sekaligus tentangan.
Pengamat dari Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Suhana berpendapat, penunjukan penerima anugerah Piala Abadi untuk Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2004-2006 ini sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan akan lebih baik dibanding pendahulunya Freddy Numberi.
"Bisa lebih baik dibanding yang sebelumnya, karena dia punya pengalaman dalam membangun kelautan di kawasan timur khususnya di Teluk Tomini," ujar Suhana.
Suhana juga mengharapkan agar Ketua Dewan Jagung sejak tahun 2004 ini dapat meningkatkan akses masyarakat pesisir atas sumber daya perikanan dan industrialisasi pengolahan ikan. Ia juga berharap Fadel sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan terpilih untuk periode 2009-2014 tidak membuat industrialisasi penangkapan ikan.
Sementara Sekjen Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik yang memang selalu bersuara keras kepada pemerintah khususnya departemen yang menaungi sektor kelautan dan perikanan, mengaku tidak terlalu puas dengan pemilihan Fadel yang berlatar belakang politisi.
Ia hanya berharap penerima "Lee Kuan Yew Fellowship Award" atas jasanya di bidang kerjasama dalam meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara ini dapat lebih mengedepankan kepentingan masyarakat pesisir yang mayoritas nelayan miskin.

Kamis, 15 Oktober 2009

PENGELOLAAN TERUMBU KARANG PERLU DUKUNGAN SEMUA PIHAK


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG PERLU DUKUNGAN SEMUA PIHAK
13/10/2009 - Kategori : Siaran Pers (sumber dari www.dkp.go.id)

Keberadaan area Coral Triangle (CT) perlu dijaga karena memiliki multi fungsi, antara lain
1. pendukung mata pencaharian alternatif dan keamanan makanan masyarakat di wilayah tersebut,
2. daya tarik wisatawan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
3. melindungi masyarakat pesisir dari kerusakan yang disebabkan badai tropik dan tsunami, dan
4. sarana masuknya investasi.
Simposium ini dilaksanakan sebagai bagian untuk menghasilkan solusi yang lebih baik dalam pengelolaan terumbu karang, terutama di area CT sebagai salah satu pusat keanekaragaman laut di dunia. Perlindungan dan pengelolaan keberlanjutan terumbu karang tidak terbatas tanggungjawab Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), melainkan perlu keterlibatan seluruh stakeholders kelautan dan perikanan, instansi terkait, peneliti, masyarakat, dan Pemerintah Daerah serta dukungan dunia internasional. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi saat membuka “Coral Reef Management Symposium on CT Area and Indonesian Ocean Policy Workshop” di Jakarta (12/10).

Sebelumnya, Indonesia sebagai inisiator CT, sukses menyelenggarakan World Ocean Conference (WOC) dan CT Inisiative Summit bulan Mei lalu di Manado, diantaranya menghasilkan Leaders Declaration of CT, dan diadopsinya Regional Plan of Action (RPOA) oleh 6 kepala negara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua New Guine, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste) atau disebut CT-6. Sebagai salah satu pusat keanekaragaman laut di dunia, CT memiliki luas 75.000 km2, lebih dari 500 spesies terumbu karang dan dihuni lebih dari 3000 spesies ikan. Selain itu, terumbu karang di area tersebut merupakan sumber pangan bagi 120 juta penduduknya, tempat pemijahan ikan tuna dan sumber ekonomi regional dengan perkiraan perputaran uang mencapai US$ 2,3 milyar per tahunnya.

Sebagai “etalase” terumbu karang dunia, Indonesia memiliki 82 genera dan 590 spesies karang keras yang tersebar pada 74.748 km2 atau setara dengan 18 persen dari luasan terumbu karang dunia. Namun demikian, keberadaan terumbu karang di Indonesia juga mengalami tingkat kerusakan dan ancaman yang tinggi setiap tahunnya. Tingginya ancaman dan kerusakan terumbu karang sebagian besar disebabkan prilaku manusia, seperti eksploitasi karang untuk pondasi rumah, pengerasan jalan, pembuatan kapur, penggunaan alat tangkap yang merusak (destructive fishing) seperti bom dan potasium, ekspolitasi sumberdaya secara berlebih, dan pembuangan limbah domestik dan industri ke perairan. Kerusakan terumbu karang berdampak terhadap keberlangsungan hidup sumberdaya laut yang menjadikan ekosistem tersebut sebagai rumah, tempat mencari makan, tempat memijah, serta rantai makanan lain yang terjadi di ekosistem tersebut. Kerusakan ekosistem terumbu karang secara terus menerus, tanpa adanya upaya rehabilitas dan konservasi akan berdampak terhadap penurunan stok ikan (baik keragaman, ukuran, dan jumlahnya), yang pada akhirnya berakibat pada penurunan pendapatan masyarakat setempat.

Dalam upaya mencegah dan menekan tingkat kerusakan terumbu karang, Indonesia melalui DKP melaksanakan program penyelamatan terumbu karang melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II (COREMAP II). Program yang tersebar di 16 kabupaten/kota dan 7 propinsi ini memiliki tujuan untuk menjaga dan mengkonservasi keanekaragaman hayati serta mengelolanya secara berkelanjutan, memperkuat kapasitas masyarakat dan institusi lokal, dan menurunkan tingkat kemiskinan di masyarakat pesisir. Program penyelamatan terumbu karang yang terbagi dalam 3 komponen (penguatan kelembagaan, pengelolaan berbasis masyarakat dan kolaboratif, dan penyadaran masyarakat-pendidikan dan kemitraan bahari) ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai institusi (Pemerintah dan Non Pemerintah) di tingkat desa hingga pusat. Dalam program ini, masyarakat pesisir ditempatkan sebagai pelaku utama kegiatan yang mendukung pelestarian sumberdaya, sehingga menimbulkan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya laut.

Program penyelamatan terumbu karang dan ekosistemnya tidak terbatas menjadi program nasional, tetapi juga merukan program internasional. Dalam rangka mendukung hal tersebut, COREMAP II berinisiasi menyelenggarakan simposium internasional untuk mencari solusi yang tepat dalam pengelolaan terumbu karang dengan melibatkan semua pihak. Dalam simposium ini akan dibahas beberapa topik diskusi, yaitu: pengelolaan terumbu karang, monitoring dan penilaian terumbu karang di sekitar area CT, adaptasi terumbu karang terhadap perubahan iklim, efektifitas kawasan konservasi laut dan jejaringnya, dan perbaikan dan restorasi terumbu karang. Dalam rangkaian Simposium, semenjak tanggal 9 Oktober 2009 COREMAP II juga telah dilaksanakan beberapa kegiatan, diantaranya: cerdas cermat, duta karang, pameran yang diikuti seluruh daerah program lokasi penyelamatan terumbu karang, lomba karaoke, dan saresehan nasional masyarakat terumbu karang. Kegiatan tersebut semuanya dimaksudkan untuk lebih meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan peran serta masyarakat dalam mendukung program penyelamatan terumbu karang dan ekosistemnya, terutama generasi muda sehingga harapan COREMAP II sebagaimana mottonya “terumbu karang sehat, ikan melimpah, dan masyarakat sejahtera” dapat segera terwujud.

Jakarta, 12 Oktober 2009

Narasumber/Sumber:

1. Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut, Ditjen KP3K DKP
(Ir. Agus Darmawan, M.Si/HP08158700095)
2. Direktur PMO COREMAP II (Ir. Yaya Mulyana/HP.08129606147)
3. www.dkp.go.id
4. www.coremap.or.id

DATA DUKUNG
Tabel 2. Status kondisi terumbu karang di Indonesia, tahun 2006-2008

Tahun Status (%) Keterangan
Sangat Baik Baik Cukup Kurang
2006 5,23 24,26 37,34 33,17 Sampling di
841 lokasi
2007 5,51 25,11 37,33 32,05 Sampling di
908 lokasi
2008 5,48 25,48 37,06 31,98 Sampling di
985 lokasi

Keterangan:

Sangat baik : 75 – 100% tutupan karang hidup

Baik : 50 – 74% tutupan karang hidup

Cukup : 25 – 49% tutupan karang hidup

Kurang : 0 – 24% tutupan karang hidup
3. Dalam rangka upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, tahun 2008 telah terbentuk kawasan konservasi laut seluas 7,2 juta ha dan tahun 2009 menjadi 13,5 juta ha.

4. Didalam RPOA terdapat 5 (lima) tujuan utama, yaitu: pengelolaan bentang laut (seascape) prioritas pada kawasan laut; pengelolaan perikanan berbasis ekosistem; penetapan dan pengelolaan efektif kawasan konservasi laut dan jejaringnya (Marine Protected Area and its networks); adaptasi terhadap perubahan iklim; dan mempertahankan terhadap menurunnya spesies langka (threatened species) serta mengupayakan peningkatannya.

5. COREMAP I diluncurkan secara resmi pada tanggal 1 September 1998. Sedangkan untuk COREMAP II, kabupaten yang terlibat didanai oleh World Bank (WB) adalah Selayar (Sulawesi Selatan), Pangkajene (Sulawesi Selatan), Buton (Sulawesi Tenggara), Sikka (Nusa Tenggara Timur), Biak (Papua), dan Raja Ampat (Papua), serta kabupaten Buton dan Wakatobi. Sedangkan untuk kabupaten yang didanai oleh Asia Development Bank (ADB) adalah: Kota Batam (Kepulauan Riau), Bintan (Kepulauan Riau), Natuna (Riau), Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat Tapanuli Tengah (Sumatra Utara) dan Mentawai (Sumatra Barat).

Minggu, 04 Oktober 2009

NADRAN SEBAGAI PESTA LAUT DAN IDENTITAS KEARIFAN LOKAL





PESTA LAUT

Sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat nelayan bahwa sedekah laut merupakan ritual setiap tahun, dimana dalam ritual nadran atau pesta laut wujud rasa syukur atas hasil laut yang berlimpah terhadap sang pemberi rezeki dengan membuat miniatur perahu yang dihias berbagai rupa diantaranya kepala kerbau dan sesaji yang diarak ke tengah laut.
Miniatur Perahu atau pecunan (dalam bahasa Cirebon) disiapkan masyarakat nelayan Sepanjang pantai Cirebon untuk ritual tahunan Nadran atau pesta laut, pecunan/miniatur perahu dihias sedemikian rupa seperti aslinya dan diisi kepala kerbau dan berbagai macam makanan dan minuman serta sesaji untuk di jeburkan ketengah laut sebuat wujud rasa syukur kepada sang pencipta, sebelum pecunan di arak dan bermuara ketengah laut juru kunci sebelumnya melakukan ritual membakar kemenyan dan membaca mantra dan kemudian pecunan diarak diikuti oleh berbagai simbol-simbol laut dan budaya nelayan bersama masyarakat nelayan tua,muda, pria dan wanita, anak2 semuanya melakukan karnaval diiringi musik tradisional dan modern dan larut dalam kegembiraan samapai dipantai dan dilanjutkan dengan konvoi perahu sampai acara penjeburan dan perebutan makanan dilaut yang kepercayaan masyarakat nelayan ada berkah bilamana mendapatkan makanan aksi perebutan makanan dan minuman dilautpun tak terhindari.
acara dilanjutkan dengan pagelaran kesenian tradisional seperti Wayang kulit/golek, Sandiwara, Orkes dangdut dan lain sebagainya guna memeriahkan dan menghibur masyarakat nelayan setelah selama 1 tahun berkutat memeras keringat dilaut.
Dan acara pagelaran wayang, orkes dangdut dan tarlingan merupakan bagian dari menjaga budaya yang harus diwariskan anak cucu dibawah gempuran kebudayaan asing yang semakin mengancam keberadaan kebudayaan tradisional sebagai identitas budaya lokal disamping ritual nadran itu sendiri (oleh Oman Panorama AAG – sumberdayalaut.blogspot.com)

Sabtu, 01 Agustus 2009

BUBU, WADONG, BINTUR


Kami, EKA plastik adalah merupakan produsen Jaring Bubu, atau yang mempunyai nama lain dengan sebutan Jaring Wuwu, Jaring Wadong, Jaring Bintur.
Jaring produk kami merupakan hasil kerajinan tangan, dibuat dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen. Bubu dibuat dari kerangka besi (kawat seng) tahan karat, kerangka tersebut ditutup / disulam dengan jaring PE benang D6 disulam sehingga jarak antar jaring maupun dengan kerangka besi rapat dan kuat, mulut jaring bubu ada 2 terletak disisi kiri dan kanan. Bentuknya mengkerucut kedalam dan berfungsi sebagai jalan masuk rajungan, kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster. Rangka bubu dibuat tidak permanen dan dapat mudah untuk dibuka dan ditutup, sehingga memudahkan nelayan memasang umpan pada pengait umpan dan menebarnya ke laut yang merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Jaring bubu umumnya digunakan untuk menangkap rajungan, tapi dalam perkembangannya jaring bubu juga digunakan untuk menangkap keong dan menangkap Lobster, dengan cara:
Pengait pintu dibuka, disana terdapat besi tempat umpan, pasang ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional), selanjutnya pintu ditutup, selanjutnya masukkan bubu ke laut. Perlu di ingat Jaring bubu adalah satu diantara alat tangkap yang ramah lingkungan.
Dipantura pulau jawa umumnya dalam 1 perahu (perahu nelayan tradisional) menggunakan 200 sampai 300Pcs jaring bubu yang diikat dalam tali utama 6ml.
Untuk bisa menjalin kerjasama saling menguntungkan pada masa mendatang, kami siap dihubungi.




Keterangan Produk
1. Jaring Bubu 32 Kotak
Ukuran:
Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
2. Jaring Bubu 32 Kotak Kombinasi
Ukuran:
Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Palang Bawah body : kawat Seng No.10
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
3. Jaring Bubu Wadong Tanggung Besar (WTB)
Ukuran:
Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
4. Jaring Bubu Wadong Tanggung Kecil (WTK)
Ukuran:
Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm
Kerangka Body : kawat Seng No.10
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
5. Jaring Bubu Keong (KK)
Ukuran:
Lebar 23cmx panjang 35cmxTinggi14cm
Kerangka Body : kawat Seng No.8
Kunci : kawat Seng No.10
Umpan : kawat Seng No.12
Jaring : PE D6 1¼”
6. dan ukuran lainya yang bisa dipesan sesuai dengan keinginan pelanggan untuk info hubungi kami dibawah ini

Dirilis oleh:
Oman Panorama AAG, SH

Untuk info & pemesanan
EKA plastik
Jl. Puri Langgen IX No. 13 Cirebon
Telp. (0231) 3890607
08115007600 - 0817260782
e_mai : ghoib_mu@yahoo.co.id
panoramadahlia@gmail.com

Ikan Paus

Ukuran Ikan Paus Biru yang Dianggap Sebagai Makhluk Terbesar Di Dunia
April 18th, 2008 fuad@cs.its.ac.id
Paus Biru (Balaenoptera musculus) adalah mamalia laut yang menyertai subordo Paus Balin.[2] Panjangnya mencapai lebih dari 33 meter dan massa 181 ton metrik atau lebih, hal ini dipercaya menjadi hewan terbesar yang dimiliki sepanjang hidup[3][4] meskipun beberapa penemuan dinosaurus secara terpisah seperti Amphicoelias fragillimus kolosal mungkin tantangan kepercayaan yang bertahan lama.

Panjang dan langsing, tubuh Paus Biru dapat bervariasi keteduhan kelabu kebiruannya.[2] Ada sedikitnya tiga perbedaan subspesies: B. m. musculus Atlantik utara dan Pasifik utara, B. m. intermedia, Samudra selatan dan B. m. brevicauda (juga dikenal sebagai Paus Biru Kerdil) ditemukan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Selatan. B. m. indica ditemukan di Samudra Hindia, mungkin menjadi subspesies lain. Seperti dengan paus balin lain, pola makannya berisi secara pokok crustacea kecil yang dikenal sebagai krill, yang sama baiknya dengan ikan kecil dan cumi-cumi.

Paus Biru sangat berlimpah di hampir seluruh samudra hingga memasuki abad 20. Selama lebih dari 40 tahun paus-paus tersebut diburu sampai mendekati kepunahan dengan adanya perburuan paus hingga dilindungi oleh komunitas internasional pada tahun 1966. Sebuah laporan tahun 2002 memperkirakan ada 5.000 sampai 12.000 Paus Biru di seluruh dunia[5] yang lokasinya terbagi dalam sedikitnya lima kelompok. Kebanyakan riset saat ini memberi perhatian terhadap subspesies Kerdil yang mungkin dibawah perkiraan.[6] Sebelum perburuan paus, populasi terbesar berada di Antartika, dengan jumlah diperkirakan 239.000 (mencapai 202.000 hingga 311.000).[7] Sisanya yang hanya sebagian kecil (sekitar 2.000) mengkonsentrasikan di setiap kelompok Pasifik timur laut, Antartika, dan Samudra Hindia. Ada dua lebih kelompok di Samudra Atlantik utara dan sedikitnya dua di Belahan Selatan.

ellisbluewhale.jpg 1180603645.gif image.jpg

Rajungan atau Kepiting Totol

Kepiting

Callinectes sapidus
Callinectes sapidus
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Animalia
Filum:Arthropoda
Upafilum:Crustacea
Kelas:Malacostraca
Ordo:Decapoda
Upaordo:Pleocyemata
Infraordo:Brachyura
Linnaeus, 1758
Superfamilies
  • Podotremata
    • Cyclodorippoidea
    • Homolodromioidea
    • Dromioidea
    • Homoloidea
    • Raninoidea
  • Eubrachyura
    • Dorippoidea
    • Calappoidea
    • Leucosioidea
    • Majoidea
    • Hymenosomatoidea
    • Parthenopoidea
    • Retroplumoidea
    • Cancroidea
    • Portunoidea
    • Bythograeoidea
    • Xanthoidea
    • Bellioidea
    • Potamoidea
    • Pseudothelphusoidea
    • Gecarcinucoidea
    • Cryptochiroidea
    • Pinnotheroidea *
    • Ocypodoidea *
    • Grapsoidea *

Asterisk (*) menandakan kepiting termasuk dalam clade Thoracotremata.

Kepiting adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari infraordo Brachyura, yang dikenal mempunyai “ekor” yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ke dalam Brachyura termasuk kepiting, ketam, dan rajungan.

Kepiting terdapat di semua samudera dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat, khususnya di wilayah-wilayah tropis.

Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m .

Anatomi

Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (”phyllobranchiate”), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda.

Kepiting atau ketam jantan dan betina mudah dibedakan dengan melihat ekornya, yang terlipat di bawah (atau di ‘depan’) tubuhnya dan nampak seperti segitiga bersegmen-segmen. Yang jantan cenderung sempit, dan yang betina melebar, kadang-kadang berisi ribuan telur hingga nampak menganga.

Kepiting dan rajungan adalah jenis hewan yang sangat mirip. Perbedaannya hanya terletak pada kaki yang paling belakang; pada rajungan kaki yang terakhir itu merupakan sejenis anggota tubuh yang pipih tetapi lonjong (tidak runcing seperti kaki lainnya) yang umumnya digunakan untuk berenang. Rajungan juga lebih umum ditemukan di laut.

Rajungan

Rajungan

pengamatan aspek biologi rajungan

18/10/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

Rajungan (Portunus pelagicus) banyak ditemukan pada daerah dengan geografi yang sama seperti kepiting bakau (Scylla serrata). P. pelagicus dikenal dengan nama rajungan, blue swimming crab atau kepiting pasir dan merupakan hasil samping dari tambak tradisional pasang-surut di Asia (Cowan, 1992). Sejak tahun 1973 di negara tetangga, rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang penting dalam sektor perikanan (Anonim, 1973).

Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan (Anonim, 1988). Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam (Supriyatna, 1999). Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya (Juwana, 2002).

Penelitian tentang produksi massal rajungan masih relatif baru, berbeda dengan kepiting bakau yang telah lebih lama dilakukan (Rusdi et al., 1993; Yunus et al., 1996; Rusdi, 1999), walaupun hasil sintasannya masih rendah. Supriyatna (1999) menyebutkan bahwa sintasan diperoleh juga masih rendah berkisar 4%-29%. Menurut informasi dari panti benih milik perusahaan swasta, dari beberapa kali memproduksi benih rajungan masih diperoleh sintasan rata-rata sebesar 15%.

Beberapa spesies rajungan yang memiliki nilai ekonomis adalah Portunus trituberculatus, P. gladiator, P. sanguinus, P. hastatoides (Nakamura,1990), dan P. pelagicus (Supriyatna, 1999), sementara yang banyak diteliti saat ini adalah P. pelagicus dan P. trituberculatus.

Dari penelitian pembenihan diketahui bahwa tingkat kematian benih rajungan banyak terjadi pada saat larva yaitu dari stadia zoea IV ke stadia megalopa. Pemberian pakan tunggal berupa rotifera pada pemeliharaan larva rajungan dapat menghasilkan sintasan sebesar 5,8% (Panggabean et al., 1982), dan pemberian naupli artemia dapat menghasilkan sintasan sebesar 10% (Yatsuzuka & Sakai, 1980). Padahal pembenihan di Jepang yang telah berhasil, pakan yang diberikan pada larva rajungan juga hanya berupa rotifer, artemia, dan cacahan daging ikan atau kerang. Sehubungan sintasan yang masih rendah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat diketahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi sintasan larva rajungan untuk dapat meningkatkan sintasannya.

Upaya pengontrolan lingkungan larva saat ini dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan bakteri menguntungkan yaitu yang dapat menekan populasi mikroorganisme yang merugikan sebagai alternatif penggunaan antibiotik. Sebagai pengontrol biologis digunakan isolat bakteri yang mampu menekan populasi bakteri patogen dan memacu sistem pencernaan larva rajungan. Berikut informasi biologi di samping pembenihan rajungan sendiri yang diharapkan dapat berperan sebagai bahan informasi dasar untuk meningkatkan teknologi perbenihan rajungan di Indonesia.

JENIS DAN MORFOLOGI RAJUNGAN
Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau (Kasry, 1996).

Dilihat dari sistematikanya, rajungan termasuk ke dalam:

  • Phylum : Arthropoda
  • dass : Crustacea
  • Ordo : Decapoda
  • Sub ordo : Branchyura
  • Famili : Portunidae
  • Genus : Portunus
  • Species : Portunus pelagicus

Dari beberapa jenis kepiting yang dapat berenang (swimming crab), sebagian besar merupakan jenis rajungan. Sebagai contoh yang banyak terdapat di Teluk Jakarta adalah 7 jenis rajungan seperti Portunus pelagicus, P. sanguinolentus, Thalamita crenata, Thalamita danae, Charybdis cruciata, Charibdis natator, Podophthalmus vigil (Anonim, 1973). Sementara beberapa informasi lain menyebutkan bahwa jenis rajungan terdiri atas 11 jenis seperti Portunus pelagicus Linn, P. sanguinolentus Herbst, P. sanguinus, P. trituberculatus, P. gladiator, P. hastatoides, Thalamita crenata Latr., Thalamita danae Stimpson, Charybdis cruciata, Charibdis natator Herbst, Podophthalmus vigil Fabr., (Nakamura, 1990; Soim, 1996; Supriyatna, 1999), sedangkan P. trituberculatus banyak ditemukan di Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea. Nilai gizi dari bagian tubuh jenis kepiting yang dapat dimakan (edible portion) mengandung protein 65,72%; mineral 7,5%; dan lemak 0,88% (Soim, 1996).

Rajungan di beberapa daerah memiliki nama yang berbeda-beda seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Nama jenis rajungan di berbagai daerah

Nama ilmiah
Nama daerah

Sumber : Nakamura (1990), Soim (1996), Supriyatna (1999), Juwana & Romimohtarto (2000)

Hasil penelitian pembenihan rajungan, Portunus trituberculatus banyak dilaporkan di Jepang, sedangkan di Indonesia hasil penelitian banyak dilaporkan pembenihan rajungan jenis Portunus pelagicus (Juwana, 2002). Sementara Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol Bali tahun 2003 telah melakukan penelitian pembenihan rajungan (Portunus pelagicus) (Gambar 2) untuk mengantisipasi keperluan benih rajungan dalam rangka meningkatkan keberhasilan budi daya rajungan di tambak, dan sekaligus untuk memenuhi permintaan ekspor rajungan.

Warna rajungan jantan adalah dasar biru dengan bercak putih, sedangkan rajungan betina berwarna dasar hijau kotor dengan bercak putih kotor. Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 g, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Cowan, 1992).

Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan, dan 1 pasang kaki berfungsi sebagai dayung untuk berenang. Nontji (1986) menyatakan rajungan mempunyai 5 pasang kaki jalan, di mana kaki jalan pertama ukurannya besar, memiliki capit dan kaki jalan terakhir mengalami modifikasi sebagai alat berenang. Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus. Sedangkan pada kaki kelimayang mengalami modifikasi pada daktilus menyerupai dayung untuk berenang dan berbentuk pipih.

HABITAT RAJUNGAN
Rajungan (swimming crab) memiliki tempat hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti kepiting bakau (Scylla serrata), tetapi memiliki tingkah laku yang hampir sama dengan kepiting. Coleman (1991) melaporkan bahwa rajungan (Portunus pelagicus) merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung. Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan Indo-Pasifik dan India. Sementara itu informasi dari panti benih rajungan milik swasta menyebutkan bahwa tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan, dan daerah Kalimantan Barat.

Moosa (1980) memberikan informasi bahwa habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 56 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken, 1986).

Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa.

Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang (Coleman, 1991). Disebutkan pula bahwa rajungan hidup pada kedalaman air laut sampai 40 m (131 ft), pada daerah pasir, lumpur, atau pantai berlumpur. Rajungan merupakan binatang karnivora. Makanan rajungan berupa ikan, binatang invertebrata dan merupakan binatang karnivora.

PEMBENIHAN RAJUNGAN
Dalam pembenihan baik itu pembenihan ikan, udang, ataupun pembenihan kepiting dan rajungan, diperlukan beberapa ketentuan antara lain penyediaan induk rajungan yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Induk rajungan yang mengandung telur banyak terdapat pada bulan Maret sampai Mei dan pada bulan Juni sampai Agustus. Induk-induk rajungan yang mengandung telurdiangkut dengan wadah kantong plastik atau box polyestervolume 5-10 L untuk 1 ekor dengan suhu air t 30°C, bila capit diikat dapat terisi lebih banyak lagi. Lama transportasi untuk membawa induk rajungan sampai 1-5 jam dan menggunakan aerasi yang cukup. Induk rajungan kemudian ditempatkan pada bak beton tertutup dengan kedalaman 50 cm, dan dilakukan pergantian air atau air mengalir. Pada bak induk harus dihindari adanya alga karena akan mengganggu perkembangan telur. Pengamatan perkembangan telurselalu dipantau setiap hari dan akan terlihat perubahan warna telur dari orange ke coklat dan kemudian berwarna hitam. Penetasan telur biasanya akan terjadi pada waktu malam antara pukul 20.00 sampai 24.00, kemudian induk diambil, dilanjutkan dengan menghitung larva, kemudian larva dipindahkan ke bak pemeliharaan. Larva yang menetas diseleksi, larva yang kurang baik dengan tanda-tanda kurang tertarik pada cahaya dan ukuran larva kecil <>

Pemeliharaan larva rajungan cenderung lebih cepat dibanding pemeliharaan larva kepiting bakau; karena masa stadia zoea lebih singkat yaitu hanya mengalami 4 masa stadia zoea (Z1-Z4). Informasi sementara menyebutkan bahwa lama perkembangan masa stadia zoea sekitar 3-4 hari dalam kondisi suhu media air 20°C-25°C, stadia megalopa dan crablet selama 5-7 hari. Perkembangan larva rajungan dari zoea-1 sampai menjadi crablet seperti terlihat pada Gambar 3.

Larva juga dapat dipelihara pada berbagai bentuk bak, tetapi yang lebih sesuai untuk pemeliharaan larva rajungan adalah bentuk bak bulat yang ditempatkan di luar ruangan atau ruang kaca. Sumber air yang baik digunakan dalam pemeliharaan larva rajungan berupa air laut yang disaring dengan filter pasir. Nogami et al. (1995) menyatakan bahwa sumber air untuk pemeliharaan larva rajungan berasal dari air laut yang telah disaring dengan filter pasir, kemudian disterilkan dengan sodium hipoklorit dan dinetralkan dengan sodium tiosulfat.

Langkah yang dilakukan dalam pemeliharaan larva rajungan yaitu menyiapkan bak dengan bak, dengan memper tahankan suhu air yang konstan; salinitas air 30-33 ppt; pH air sekitar 8-8,5; oksigen 15–20 L/ton/menit; dan intensitas cahaya di atas 3.000 lux. Penebaran larva rajungan dapat dilakukan dengan kepadatan 100 ind./L (Juwana, 2002).

Pergantian air dalam bak larva dimulai saat stadia Zoea 2 sebanyak 10% per hari, kemudian ditingkatkan saat megalopa menjadi 20%-50% per hari. Aerasi diharapkan merata di seluruh bak dan jumlah aerasi optimum tergantung pada tingkat kepadatan larva, plankton, dan pakan yang diberikan. Pada beberapa panti benih di Jepang tidak menggunakan fitoplankton dalam bak pemeliharaan larva rajungan, sehingga selama pemeliharaan larva dilakukan sirkulasi air untuk menjaga timbulnya populasi plankton. Alga yang mati dapat melepaskan racun nitrogen berupa amonia dan nitrit, oleh karena itu diperlukan adanya perlakuan air secara mikrobiologi berupa penambahan bakteri dan ragi agar dapat mengontrol tingkat kelarutan bahan organik yang dapat menimbulkan amonia dan nitrit. Selama pemeliharaan larva juga dilakukan pengamatan organisme asing berupa diatom, protozoa, dan jamur, karena diatom dan protozoa akan membahayakan larva pada tingkat kepadatan > 5.000 sel/mL. Di samping itu pada kondisi suhu rendah diatom akan melekat pada karapas, dan pada media air yang kotor, jamur akan menghambat proses moultingsehingga kematian larva akan meningkat.

Kepadatan optimal untuk produksi massal Portunus pelagicus yang dipelihara dalam bak volume 400 liter adalah berturut-turut untuk Zoea 1, 2, 3, dan 4 sebanyak 312.000, 294.000, 200.000, dan 104.000 ekor, begitu juga pola pemberian pakan untuk bak tersebut adalah 2 x 1 juta artemia ditambah 2 x 10 g pakan tambahan (Juwana, 2002). Dari penelitian Juwana (1999a) dalam Juwana (2002) juga diuraikan bahwa suhu optimal untuk pemeliharaan zoea sekitar 30°C atau berkisar 27°C-32°C, sementara untuk stadia megalopa sekitar 34°C, salinitas optimum untuk zoea sekitar 27-30 ppt, dengan intensitas cahaya 2.500 lux selama 3-12 jam/hari. Untuk stadia crablet membutuhkan air bersalinitas 28-32 ppt; suhu 28°C-30,5°C; dan intensitas cahaya 3.300 lux.

Berbagai metode dalam jenis makanan yang diberikan dan caranya selama pemeliharaan larva sampai crablet rajungan berurutan berupa rotifera, pakan tambahan, naupli artemia, dan ikan rucah yang diblender, Juwana (2002) memberikan pola makan pada P. pelagicus berurutan berupa naupli artemia, formulasi diet, dried mysid, dan kerang hijau cincang. Sedangkan Nogami et al., (1994) memberikan urutan jenis pakan yang diberikan pada larva rajungan (Portunus trituberculatus) seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Standar pakan untuk larva rajungan (Portunus trituberculatus) (Nogami et.al.,1994)

Jenis Pakan
Stadia larva
Z-1
Z-2
Z-3
Z-4
M
C

Keterangan : Z : Zoea, M: Megalopa, C : Crablet

Juwana (2002) memberikan formulasi diet makanan untuk pemeliharaan larva P. pelagicus seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Formulasi diet untuk pemeliharaan larva P. pelagicus

Ingredient
Unit
Formulated diet

Maeda (1999) melaporkan pemberian pakan untuk larva P. trituberculatus berupa nannochloropsis, diatom, bakteria, rotifer, artemia, dan euphansia. Dosis dan saat pemberian pada tiap stadia rajungan tersaji pada Tabel 4.

Tabel. 4 Pemberian pakan untuk larva P. trituberculatus (Maeda, 1999)

Jenis Pakan
Stadia larva
Z-1
Z-2
Z-3
Z-4
M

Keterangan : Z: Zoea; M: Megalopa

Untuk menghindari terjadinya kanibalisme dari stadia megalopa sampai crablet, maka pada bak pemeliharaan diberikan shelter atau pelindung berupa jaring atau waring. Kanibalisme yang terjadi selama stadia megalopa dapat dikurangi dengan menyediakan feeding regime yang optimal dan diberi fibre plastik sebagai shelter (Juwana, 2002). Kondisi lingkungan sangat menentukan terhadap keberhasilan dari perbenihan rajungan di mana suhu, salinitas, makanan, dan sistem pemeliharaan yang berbeda akan mengakibatkan proses intermoult(lama antar pergantian kulit) dan waktu untuk metamorfosis 1 akan berbedajuga. Crablet rajungan dapat diangkut menuju tempat pembesaran di tambak dengan kepadatan 150 ekor/liter dengan suhu air 15°C-19°C.

Sumber : Warta Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 10 Nomor 1, 2004.