Rabu, 11 Agustus 2010

PENGENALAN TERHADAP BUBU/WADONG DAHLIA


Kami, Dahlia UD adalah merupakan produsen Jaring Bubu, atau yang mempunyai nama lain dengan sebutan Jaring Wuwu, Jaring Wadong, Jaring Bintur.
Jaring produk kami merupakan hasil kerajinan tangan, dibuat dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen. Bubu dibuat dari kerangka besi (kawat seng) tahan karat, kerangka tersebut ditutup / disulam dengan jaring PE benang D6 disulam sehingga jarak antar jaring maupun dengan kerangka besi rapat dan kuat, mulut jaring bubu ada 2 terletak disisi kiri dan kanan. Bentuknya mengkerucut kedalam dan berfungsi sebagai jalan masuk rajungan, kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster. Rangka bubu dibuat tidak permanen dan dapat mudah untuk dibuka dan ditutup, sehingga memudahkan nelayan memasang umpan pada pengait umpan dan menebarnya ke laut yang merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Jaring bubu umumnya digunakan untuk menangkap rajungan, tapi dalam perkembangannya jaring bubu juga digunakan untuk menangkap keong dan menangkap Lobster, dengan cara:
Pengait pintu dibuka, disana terdapat besi tempat umpan, pasang ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional), selanjutnya pintu ditutup, selanjutnya masukkan bubu ke laut. Perlu di ingat Jaring bubu adalah satu diantara alat tangkap yang ramah lingkungan.
Dipantura pulau jawa umumnya dalam 1 perahu (perahu nelayan tradisional) menggunakan 200 sampai 300Pcs jaring bubu yang diikat dalam tali utama 6ml.
Untuk bisa menjalin kerjasama saling menguntungkan pada masa mendatang, kami siap dihubungi.




Keterangan Produk

1. Jaring Bubu 32 Kotak

Ukuran:

Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

2. Jaring Bubu 32 Kotak Kombinasi

Ukuran:

Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Palang Bawah body : kawat Seng No.10

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

3. Jaring Bubu Wadong Tanggung Besar (WTB)

Ukuran:

Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

4. Jaring Bubu Wadong Tanggung Kecil (WTK)

Ukuran:

Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm

Kerangka Body : kawat Seng No.10

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

5. Jaring Bubu Keong (KK)

Ukuran:

Lebar 23cmx panjang 35cmxTinggi14cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

6. dan ukuran lainya yang bisa dipesan sesuai dengan keinginan pelanggan untuk info hubungi kami dibawah ini


Dirilis oleh:

Oman Panorama AAG, SH

DAHLIA UD

Jl. Citemu No.19 Cirebon 45173

Telp. (0231) 510529

Hp. 08115007600

081802332130

085224002777


e_mai : ghoib_mu@yahoo.co.id

panoramadahlia@gmail.com

Kamis, 10 Desember 2009

BATAS WILAYAH DI 193 TITIK DASAR & 92 PULAU TERLUAR


Indonesia Sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia dan menurut United Nation Convention on The Law of The Sea ( UNCLOS) 1992. konsekuensinya, penetapan titik-titik pangkal terluar juga merupakan kerja cukup berat dan tidak mudah. Menurut hukum laut internasional, jarak dua titik berdekatan–jika ditarik garis lurus-maksimal 100 mil laut.

Pekerjaan besar itu harus melibatkan para ahli hukum untuk memastikan posisi titik-titik tersebut. Proses selanjutnya, mendaftarkanya kesekretariat PBB untuk memenuhi asas publisitas dengan publikasi disitus resmi.

Disitus itulah pekerjaan para ahli diuji, diteropong Negara tetangga apakah penetapan titik pangkal yang akan menjadi dasar batas wilayah dan kedaulatan itu bermasalah. “ dari 193 Titik pangkal yang didepositkan di PBB, tidak satupun yang disengketakan Negara tetangga,” kata Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Sobar Sutisna yang juga anggota Tim perunding Batas Maritim.

Sebelum menentukan 193 titik pangkal itu, tim yang diantaranya melibatkan Bakosurtanal dan Dinas Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut menyurvei lebih dari 300 titik sepanjang tahun 1996-1999. sebagai dasar survey tim memanfaatkan data Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Sebelum sempat didaftarkan disekretariat PBB, data direvisi karena sengketa Kepemilikan Pulau Sipadan & Ligitan yang keduanya akhirnya diputuskan menjadi milik Malaysia. Akibatnya tiga titik pangkal di sipadan dan ligitan diganti dipulau Sebatik dan Karang Unarang.

Keputusan itu memberi wilayah laut lebih besar karena titik dasar dipulau Bunyu diganti dipulau Maratau yang tarikan garis penghubungnya dari karang Unarang menjadi lebih panjang memoyong laut.

Berdasarkan kesepakatan UNCLOS, titik pangkal ada dititik terluar pulau terluar sebuah Negara dan Indonesia memiliki 92 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan 10 Negara.

Posisi titik pangkal disepakati pada posisi air surut terendah. Titik koordinat ditetapkan disana menurut Sobar terjadinya air surut terendah itu memiliki siklus 18,6 tahun artinya tidak sewaktu-sewaktu titik pangkal dapat dilihat langsung bahkan sangat sulit.

Menurut ahli hukum laut internasional Hasjim Djalal, penetapan titik pangkal sangat penting karena merupakan elemen penting perundingan batas wilayah kedaulatan sebuah Negara. Dari titik-titik itulah wilayah kedaulatan NKRI ditentukan. Oleh karena itu pascapenetapan titik pangkal Negara perlu terus memantau atau mengidentifikasi keberadaanya.

Sesuai dengan namanya titik pangkal menjadi dasar penarik garis batas berjarak 12 mil kearah laut lepas merupakan kawasan territorial, sejauh 24 mil merupakan Zona tambahan lalu 200 mil merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dengan bagian dasarnya merupakan batas landas kontinen.

Atas dasar kesepakatan internasional itu kehilangan pulau terluar karena tenggelam tidak mempengaruhi wilayah kedaulatan sebuah Negara. “sebagai daratan memang hilang, tetapi hak kedaulatan atas laut tidak” kata Hasjim

Pasalnya hukum laut internasional mengakui 5 hal yakni kedaulatan darat, laut, dasar laut, udara dan semua sumberdaya yang ada didalamnya. Seluruh kandungan sumber daya alam dalam batas landas kontinen adalah milik NKRI. Seluruh aktifitas dikawasan itu harus seizing Pemerintah RI.

Faktor utama dan penting terkait kedaulatan Negara adalah pengawasan efektif. Kunjungan berkala kekawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar meski tak berpenghuni amat dianjurkan. Mantan mentri Kelautan & Perikanan Sarwono kusumaatmadja berkisah saat masih menjabat ia berkunjung kesebuah pulau di Kalimantan Barat seorang bapak tua disana mengaku tidak tahu nama gubernurnya. Presiden yang ia kenal pun Soekarno. Namun ia kenal baik nama-nama nakhoda kapal nelayan Thailand berikut nomor lambung kapalnya karena sering mengangkut warga sakit.

Oleh karena itu kehadiran nyata pemerintah diwilayah perbatasan mutlak adanya berpenghuni atau tidak selama ada pengawasan berkala tak perlu khawatir pencaplokan pulau oleh Negara lain. “ada persepsi salah, seakan-akan kepemilikan sebuah pulau tergantung dari ada-tidaknya penduduk kata Sobar

Soal pengawasan yang membuat sipadan dan ligitan yang jatuh ketangan Malaysia. Pemerintah inggris saat menguasai Malaysia tercatat beraktifitas di dua pulau itu sementara Hindia Belanda tidak Adapun pulau miangas yang secara geografi lebih dekat dengan Filipina tetap menjadi Wilayah NKRI karena Hindia Belanda memiliki bukti aktifitas disana. Berkaca pada pengalaman Hasjim mengingatkan, pemantauan efektif dipulau-pulau terluar dan batas-batas wilayah RI harus dilakukan insentif berbuatlah sesuatu sebelum perkara muncul.

Senin, 30 November 2009

Pengenalan Terhadap Bubu alat tangkap Rajungan yang Ramah Lingkungan


Kami, Dahlia UD adalah merupakan produsen Jaring Bubu, atau yang mempunyai nama lain dengan sebutan Jaring Wuwu, Jaring Wadong, Jaring Bintur.
Jaring produk kami merupakan hasil kerajinan tangan, dibuat dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen. Bubu dibuat dari kerangka besi (kawat seng) tahan karat, kerangka tersebut ditutup / disulam dengan jaring PE benang D6 disulam sehingga jarak antar jaring maupun dengan kerangka besi rapat dan kuat, mulut jaring bubu ada 2 terletak disisi kiri dan kanan. Bentuknya mengkerucut kedalam dan berfungsi sebagai jalan masuk rajungan, kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster. Rangka bubu dibuat tidak permanen dan dapat mudah untuk dibuka dan ditutup, sehingga memudahkan nelayan memasang umpan pada pengait umpan dan menebarnya ke laut yang merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Jaring bubu umumnya digunakan untuk menangkap rajungan, tapi dalam perkembangannya jaring bubu juga digunakan untuk menangkap keong dan menangkap Lobster, dengan cara:
Pengait pintu dibuka, disana terdapat besi tempat umpan, pasang ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional), selanjutnya pintu ditutup, selanjutnya masukkan bubu ke laut. Perlu di ingat Jaring bubu adalah satu diantara alat tangkap yang ramah lingkungan.
Dipantura pulau jawa umumnya dalam 1 perahu (perahu nelayan tradisional) menggunakan 200 sampai 300Pcs jaring bubu yang diikat dalam tali utama 6ml.
Untuk bisa menjalin kerjasama saling menguntungkan pada masa mendatang, kami siap dihubungi.




Keterangan Produk

1. Jaring Bubu 32 Kotak

Ukuran:

Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

2. Jaring Bubu 32 Kotak Kombinasi

Ukuran:

Lebar 32cmx Panjang 48cmxTinggi19cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Palang Bawah body : kawat Seng No.10

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

3. Jaring Bubu Wadong Tanggung Besar (WTB)

Ukuran:

Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

4. Jaring Bubu Wadong Tanggung Kecil (WTK)

Ukuran:

Lebar 30cmx panjang 45cmxTinggi18cm

Kerangka Body : kawat Seng No.10

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

5. Jaring Bubu Keong (KK)

Ukuran:

Lebar 23cmx panjang 35cmxTinggi14cm

Kerangka Body : kawat Seng No.8

Kunci : kawat Seng No.10

Umpan : kawat Seng No.12

Jaring : PE D6 1¼”

6. dan ukuran lainya yang bisa dipesan sesuai dengan keinginan pelanggan untuk info hubungi kami dibawah ini


Dirilis oleh:

Oman Panorama AAG, SH

DAHLIA UD

Jl. Citemu No.19 Cirebon 45173

Telp. (0231) 510529

Hp. 08115007600

081802332130

085224002777


e_mai : ghoib_mu@yahoo.co.id

panoramadahlia@gmail.com

Sabtu, 07 November 2009

Perikanan Rajungan Di Indonesia

Rajungan merupakan hasil laut yang dapat diandalkan sebagai komoditi perikanan laut yang dapat menghasilkan devisa dan mempunyai potensi yang besar untuk sebagai komoditi ekspor bagi NKRI.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, perikanan beberapa jenis kepiting sudah menjadi perikanan andalan dan menghasilkan devisa yang tidak sedikit bagi Negara tersebut karena disamping teknologi yang memadai didukung juga SDM dan Alat Tangkap yang bisa meningkatkan hasil tangkap secara signifikan.

Ada Empat golongan kepiting komersial yang menjadi andalan perikanan kepiting di Amerika Serikat, yaitu
1. blue crab (kepiting biru) termasuk suku Portunidae yang merupakan satu suku dengan rajungan dan kepiting Indonesia.,
2. king crab, tidak terdapat diperaiaran kita dan satu bangsa dengan kelomang, termasuk kedalam suku Lithodidae, marga Paralithodes
3. tanner crab terdiri atas sedikitnya tiga jenis yaitu Chionoecetes bairdi, C. apilio dan C.tanneli, kesemuanya termasuk suku Majidae.
4. Dungeness crab Atau Market Crab adalah kepiting dari jenis Cancer magister dari suku Cancridae.

Walaupun Indonesia tidak seperti perikanan kepiting di Amerika, Di beberapa Laut kita seperti di wilayah sebagian besar pantai utara pulau jawa, pantai sulawesi hasil rajungan perlu diperhitungkan sebagai hasil perikanan. Tentu ini perlu mengembangkan daerah-daerah baru diseluruh wilayah NKRI karena pasar produk rajungan di Indonesia cukup terbuka lebar tetapi karena hasil perikanan ini masih kecil skalanya,

Pengelolaan Sumberdaya Rajungan
Beberapa Cara menangkap Rajungan yang dilakukan oleh para nelayan disebagian besar Peraiaran laut Indonesia di antaranya :
1. Jaring Kejer merupakan jenis jaring yang dilengkapi pelampung dan pemberat yang dapat menghadang ruaya rajungan. Jaring ini dipasang pada malam hari ditebar dilaut pada sore hari dan keesokan harinya sebelum matahari terbit diangkat kembali. Kelemahan dari alat ini adalah jaring kejer cepat rusak, hasilnya juga kurang maksimal, kelebihan dari alat ini yaitu praktis
2. Garuk/Garok, alat ini digarukan sepanjang dasar laut dengan perahu motor yang bergerak perlahan-lahan sehingga rajungan yang terdapat didasar laut ikut tergaruk dan tertangkap. Bersama Rajungan banyak jenis hewan dasar lain ikut tertangkap. Alat ini termasuk alat pembasmi dan merusak keseimbangan ekosistem laut kelebihan alat ini alat ini tidak
3. Jaring Bubu atau Wadong/Wuwu atau Bintur alat ini disebut juga jarring angkat atau Lift-net. Alat tangkap inilah sekarang yang paling banyak dipakai oleh nelayan sebagai perangkap untuk menangkap rajungan karena alat ini sangat membantu nelayan dalam hal peningkatan hasil tangkap rajungan sangat signifikan dibandingkan kedua alat diatas, kelemahan alat tangkap ini yaitu Bubu sebagai jaring perangkap memerlukan umpan yaitu ikan, hal ini kalau dipasaran tersedia ikan tidak ada masalah akan tetapi pada waktu belum musim ikan hal ini akan membingungkan para nelayan. Bubu ada yang berbentuk Persegi, atau Bulat terbuat dari bahan kawat yang dilapisi oleh bahan jaring PE.

Jumat, 23 Oktober 2009

Harapan Ditangan Menteri Kelautan Baru

JAKARTA KOMPAS.com-Jumlah penduduk miskin Indonesia yang mencapai lebih dari 30 juta jiwa, 60 persen di antaranya terkonsentrasi di wilayah pesisir. Sudah sepantasnya jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tantangan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan baru untuk menyejahterakan penduduk wilayah pesisir yang mayoritas adalah nelayan kecil.Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), kurang dari lima persen nelayan di tanah air memiliki kapal di atas 100 Gross Ton (GT). Sementara jumlah nelayan yang memiliki perahu yang tidak bermotor mencapai lebih dari 60 persen.
Muhammad, pria kelahiran Ternate, Maluku Utara, 57 tahun lalu ini, menjadi satu dari tiga kader Partai Golongan Karya (Golkar) yang terpilih mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu ke-2 di Cikeas, Bogor, Senin (19/10), mendapatkan tantangan untuk itu.
Ia mengaku diberi arahan oleh Presiden untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan kaum nelayan. Selain itu, Fadel juga diminta untuk memperhatikan sumber daya alam yang tersedia, demi kemajuan daerah pesisir dan terbelakang. "Hal yang pokok adalah supaya bagaimana terutama rakyat kecil di pesisir dan nelayan meningkat pendapatannya," ujarnya.
Kepiawaian insinyur teknik fisika lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dalam membuat program pertanian, kelautan dan perikanan selama menjabat sebagai Gubernur Gorontalo menjadi alasan bagi Presiden untuk menugaskan dirinya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2009-2014.
Pria yang juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini menilai bahwa produksi perikanan di tanah air masih sangat rendah. Karena itu, jika ia mendapat kepercayaan untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan selama 5 tahun ke depan, maka pria yang memperoleh gelar Doktor Ilmu Administrasi Negara dengan predikat Cum Laude dari Universitas Gadjah Mada ini mengatakan dirinya akan berupaya meningkatkan produksi perikanan dengan menciptakan berbagai inovasi baru.
Saat ditanyakan perihal peluang kewirausahaan di bidang kelautan dan perikanan, pria yang telah mengantongi sedikitnya 34 penghargaan selama dua periode menjabat menjadi Gubernur Gorontalo ini mengatakan peluangnya sangat besar.
Gorontalo, provinsi yang telah ia pimpin selama kurang lebih delapan tahun, menjadi contoh nyata dari perjuangnya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dengan meningkatkan produksi perikanan dari 23.000 ton menjadi 100.000 ton per tahun.Tantangan yang diterima Fadel semakin semakin lengkap, saat orang nomor satu di negeri ini memintanya untuk mampu menjaga keutuhan Indonesia sebagai negara maritim yang besar.
"Bagaimanapun juga perlu ada koordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik dengan angkatan laut, dan perhubungan agar penugasan saya berhasil dan jelas di masa datang," kata Fadel.
Jumlah pulau yang dimiliki Indonesia berdasarkan catatan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mencapai 17.480 pulau, 92 di antaranya adalah pulau-pulau terluar. Satu di antaranya --Sebatik-- berbatasan langsung dengan negara lain, yakni Malaysia Hingga saat ini, baru 4.981 pulau milik Indonesia yang tercatat dalam "United Nations Group of Experts on Geographical Names/UNGEGN) pada 2007. Pemerintah menargetkan jumlah pulau yang terdaftar bertambah menjadi 11.000 pada 2012, dan selesai seluruhnya pada 2017.

Pro dan kontra
Terpilihnya pria bernama lengkap Fadel Muhammad Al-Haddar sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan putra Papua Freddy Numberi mendapat dukungan sekaligus tentangan.
Pengamat dari Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Suhana berpendapat, penunjukan penerima anugerah Piala Abadi untuk Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2004-2006 ini sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan akan lebih baik dibanding pendahulunya Freddy Numberi.
"Bisa lebih baik dibanding yang sebelumnya, karena dia punya pengalaman dalam membangun kelautan di kawasan timur khususnya di Teluk Tomini," ujar Suhana.
Suhana juga mengharapkan agar Ketua Dewan Jagung sejak tahun 2004 ini dapat meningkatkan akses masyarakat pesisir atas sumber daya perikanan dan industrialisasi pengolahan ikan. Ia juga berharap Fadel sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan terpilih untuk periode 2009-2014 tidak membuat industrialisasi penangkapan ikan.
Sementara Sekjen Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik yang memang selalu bersuara keras kepada pemerintah khususnya departemen yang menaungi sektor kelautan dan perikanan, mengaku tidak terlalu puas dengan pemilihan Fadel yang berlatar belakang politisi.
Ia hanya berharap penerima "Lee Kuan Yew Fellowship Award" atas jasanya di bidang kerjasama dalam meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara ini dapat lebih mengedepankan kepentingan masyarakat pesisir yang mayoritas nelayan miskin.